6 Tanda Cita-cita Kamu Itu Sekedar Gengsi

cita - cita sekedar gengsi
cita - cita sekedar gengsi
cita – cita sekedar gengsi

Menurut daftar agen bola online paling bagus waktu kecil, anda pernah dengan bangga bakal sederet profesi kerenketika ditanya mengenai cita-cita. Mulai dari dokter, polisi, pilot hingga tentara, jadi cita-cita yang dulu anda ucapkan. Lalu ketika beranjak dewasa, anda jadi lebih realistis. Cita-cita menjadi pilot sudah anda coret dari susunan karena gangguan penglihatan. Dokter apalagi, sudah semenjak lama tak anda impikan sebab persoalan sepele, fobia dengan jarum suntik dan darah.

Cita-cita dari kecil sampai sekarang yang sering berganti, sekarang makin tergerus dengan adanya rasa gengsi. Kalau sejumlah saat yang laluanda sempat realistis dengan cita-citamu, tapi sekarang dirimu mulai berorientasi pada gengsi. Lucunya anda kadang tak sadar bila gengsi terselip salah satu cita-cita ini. Padahal bila kamu pahami sejak dini, anda tak akan menikmati kekecewaan yang berlebihan nanti. Bahkandapat terhindar dari hal-hal yang kurang berfungsi yang melulu menguras energi dan waktumu.

Untukmu yang kendala membedakan mana cita-cita yang tulus dari hati dengan cita-cita yang gengsi semata, barangkali uraian di bawah inidapat membantumu.

1. “Biar nggak ketinggalan sama orang-orang,” jadi dalil utamamu memilih cita-cita ini
Saat kecil dulu, anda dengan mantap berbicara ingin menjadi dokter. Alasanmu pun lumayan masuk akal guna anak seusiamu. Ingin membantu orang biar sehat, begitu katamu masa-masa itu. Apapun cita-cita yanganda miliki, mestinya punya alasannya tersendiri, tapi kini kamu malah tak punya dalil satupun. Setiap ditanya rekan bahkan orangtua, anda selalu ngeles dengan membalas Ya biar nggak ketinggalan sama orang-orang. Jadi Youtuber tuh lagi tren banget sekarang.

2. Begitu terdapat omongan orang beda yang meremehkan, semangatmu ikut meredup dan ogah melanjutkan
Cita-citamu jadi Youtuber atau yang lainnya seakan ditentukan oleh pendapat orang lain. Saat mereka mendukungmu dan berbicara yang baik-baik, semangatmu guna mewujudkan cita-cita langsung membara. Namun, begitu terdapat omongan orang beda yang merendahkan, semangatmu turut mereda. Bahkan ogah pulang melanjutkan cita-cita yang masih separuh jalan ini.

3. Cara guna meraihnya pun tak jauh-jauh dari apa yang orang beda lakukan. Kamu melulu jadi pengekor dan tak sepenuhnya punya terobosan
Berbagai teknik dan upaya tentu akan dilaksanakan untuk mewujudkan cita-cita. Mulai dari mohon petuah dari orang-orang yang kawakan di bidangnya, sampai melakukan inovasi supaya cita-cita itu menjadi spesial dan berbeda. Tapi beda halnya saat cita-citamu melulu sekadar gengsi. Dalam rangka meraihnya anda minim inovasi. Hanya mengandalkan apa yang telah orang beda lakukan. Jika boleh diibaratkan, anda layaknya follower yang hanya dapat mengikuti dari belakang. Tanpa punya kendali untuk mengerjakan terobosan baru.

4. Dalam prosesnya, tidak jarang kali ada rasa hendak terus pamer ke sosial media. Biar orang lain menyaksikan betapa gigihnya anda berusaha
Berbeda halnya dengan cita-cita pada lazimnya yang lebih tidak sedikit dipendam dalam hati namun raga tak henti melakoni, kamu malah inginnya terus pamer. Setiap ada tidak banyak progres atau bahkan tidak terdapat progres sama sekali, terdapat saja yang anda unggah di sana. Niat awalmu mungkin hendak mendapatkan sokongan moral, namun lama-kelamaan anda justru hendak pamer saja. Tak peduli orang menyerahkan respons kepadamulaksana apa.

5. Saat sudah berusaha tapi ternyata gagal. Kamu bukannya belajar dari kesalahan, namun menyerah begitu saja tanpa terdapat rasa sesal
Setiap cita-cita yang ada, tentu memiliki peluang untuk sukses atau gagal. Termasuk cita-cita yang anda hidupi sebab sekadar gengsi ini. Saat telah bersusah payah berusaha, cita-cita tersebut malah harus gagal. Yang anda rasakan kecewa bukan main. Rasa sakitnya lebih menghujamsebab ada rasa iri di dalamnya.

Meski sakit, anda bukannya belajar dari kesalahan, tapi justeru menyesal dan melulu merutuki kegagalan. Padahal seringkali proses lebih dihargai daripada hasil, kamu malah sebaliknya. Hasil ialah segala-galanya,sedangkan proses melulu pelengkap saja.

6. Saat kamu dapat mencapai tujuan, tak benar-benar terdapat rasa lega, yang ada melulu rasa haus bakal pujian
Namun, adanya Tuhan berbaik hati kepadamu. Meski dipupuk dengan rasa gengsi, cita-citamu pun terjangkau berkat usaha dan kerja kerasmu, tapianda tak menikmati lega dan bangga atas pencapaian ini. Kamu merasa biasa, walau tetap haus bakal pujian. Sementara pujian yang anda harapkan justeru tak terdapat yang tertuju kepadamu. Berhasil tapijusteru merasa hampa. Cita-cita yang mestinya memotivasimu guna jadi yang lebih baik lagi, malah mengekangmu dan membuatmu jalan di tempat.

Kalau anda baca cermat hal-hal di atas, masing-masing poin memilikikesimpulan yang dapat kamu tarik kesimpulannya. Cita-cita yang melulu karena gengsi lebih ingin terpusat pada orang beda sebagai porosnya. Mulai dari alasan, hingga hasil, tentu akan terpengaruh orang lain. Kalau cita-cita saja anda ciptakan dari rasa gengsi, yang terdapat di dalam dirimu bukannya prestasi. Namun, melulu rasa iri yang tak memberikanmu guna sama sekali. Nah, cita-cita yang sekarang anda perjuangkan terbuat dari rasa gengsi atau memang dari hati?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *